LEBIH DEKAT DENGAN M.AFZAL MAHFUZ

Pada akhir tahun 2016, secara tidak sengaja kami bertemu seorang pria di ruangan Sekretaris Fraksi Partai Demokrat di kompleks parlemen Senayan, Jakarta. Kami menghampiri dan sedikit memperkenalkan diri kepada pria yang bernama Muhammad Afzal Mahfuz. Mendengar dialek kami, ia mencoba menebak. “Dari Sulawesi, Makassar ya?” Kami pun mengiyakan. “Kalau begitu kita sekampung,” sambutnya penuh keakraban.

Dinginnya AC di ruangan itu tak mengurangi kehangatan pembicaraan kami yang keperluannya sama-sama ingin bertemu Pak Didik Mukrianto (Sekretaris Fraksi PD). Kami urusan rutin internal Tenaga Ahli Fraksi PD. Namun Pak Afzal, begitu ia biasa disapa, lagi pengurusan proses pergantian antar waktu (PAW) Salim S Mengga dari Dapil Sulawesi Barat (Sulbar) yang mengundurkan diri karena mencalonkan diri sebagai cagub Sulbar saat itu. “Kesan pertama saya, Pak Afzal orangnya humble dan cepat akrab dengan orang,” ujar Andi Muhammad Sadli, salah seorang tenaga ahli Fraksi (TA) di DPR-RI.

Sebelumnya “jatah” untuk mengisi PAW Dapil Sulbar itu adalah Sulfia Suhardi sebagai caleg dengan suara terbesar kedua. Namun belakangan dihadapan jajaran pengurus DPD Demokrat Sulbar, Sulfia menyatakan dirinya tidak bersedia diusulkan sebagai PAW. “Sesuai aturan, saya sebagai Calon DPR RI Partai Demokrat Sulbar yang meraih suara terbanyak kedua setelah Salim S Mengga berhak diusulkan mengisi kekosongan kursi DPR RI Demokrat Dapil Sulbar, tetapi saya tidak bersedia karena saya lebih memilih bekerja di jalur kemanusiaan,” kata Sulfia.

Maka Partai Demokrat pun mengusulkan nama M. Afzal Mahfuz. “Kita sepakat mengusulkan Afzal menggantikan Salim S Mengga,” kata Suhardi Duka yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Sulbar.
Pada waktu pertama kali bertemu, kisah Suhardi, dirinya sedikit terkejut. “Pria ini rupanya cukup fasih berbahasa daerah dan cepat akrab,” kenangnya.

Bagi sebagian orang di Dapil Sulawesi Barat, mungkin belum mengenal sepenuhnya Pak Afzal. Selain terjun ke dunia politik, sebagai salah seorang pengurus DPP Partai Demokrat, selama ini Afzal yang berdarah Pakistan-Mamuju ini banyak meluangkan waktu dalam berbagai aktivitas berupa advokasi dan pendampingan hukum. “Saya ini punya hubungan keluarga yang cukup dekat dengan daerah Sulbar. Saya ini peranakan Pakistan dan Budong-Budong (nama kampung di Sulbar,red),” ungkap Afzal.*

Sidang Paripurna DPR RI Pembukaan masa persidangan III tahun sidang 2016 – 2017 pada 10 Januari 2016 menjadi tonggak sejarah perjalanan karir politik Afzal. Saat itu ia dilantik bersama sembilan anggota DPR RI Pergantian Antar Waktu (PAW) Periode 2014-2019 di Gedung DPR RI Jakarta. Sekaligus sebagai kado ultah ke-42 bagi pria yang wajahnya mirip bintang film Bollywood ini.

Pada akhir 2017, Afzal berpindah tugas yang semula di Komisi 1 membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi dan informatika ke Komisi 2 DPR-RI yang membidangi pemerintah dalam negeri dan otonomi daerah, aparatur dan reformasi birokrasi, kepemiluan, pertanahan dan reforma agraria.

Selain memperjuangkan aspirasi masyarakat Sulbar, Afzal juga terlibat aktif dalam berbagai proses pengambilan keputusan sejumlah RUU sebelum menjadi UU. Seperti UU tentang Ormas. Ia mengatakan bahwa fraksinya selalu mendukung pemerintah tapi tetap mengedepankan supremasi hukum. Afzal memandang telah terjadi pergeseran paradigma pemerintah terkait pengorganisasian masyarakat. “Fraksi kami mengingatkan agar tidak tergelincir dari konstitusi negara hukum.

Memperhatikan Perppu Ormas ini, kami berpandangan ada pergeseran pola pikir pemerintah dalam memandang ormas-ormas yang ada di Indonesia. Kami memandang telah terjadi pergeseran paradigma pemerintah tentang kebebesan untuk berkumpul dan berserikat,” jelas pria kelahiran Jakarta 15 Januari 1974.

Sebagai seorang anggota DPR RI di Senayan, Afzal kerap mengajak ngobrol ringan sembari ngopi dengan teman-teman jurnalis. Dalam lawatan kedinasannya, terpikir oleh kami jika Pak Afzal akan menikmati fasilitas ruang tunggu istimewa di lounge, duduk di kelas bisnis dalam pesawat sebagaimana pejabat lainnya. Pantas pula jika ia mendapatkan pelayanan staf atau asisten selama pengurusan di bandara demi privasi seorang yang sekelas pejabat negara.

Baca juga “Afzal Mahfuz : Penjabat Gubernur, Langkah Mundur Demokrasi”

Dugaan itu meleset, Pak Afzal amatlah sederhana. Menurut cerita sejumlah orang, ia justru memilih antre berbaur dengan penumpang lainnya. “Sikap kami selayaknya kawan akrab, meski kami belum lama berkenalan. Selama ini saya hanya dengar namanya dan jumpa lepas saja,” — lama kelamaan, kami superti keluarga dekat, karena pembawaannya yang sangat merakyat dan tanpa sekat protokol yang kaku, kisah Andi Sadli.

Bahkan beberapa staf di kantor DPR-RI mengaku tak pernah merasa canggung ketika kedatangan Pak Afzal. Sebab ia seperti memperlakukan staf itu sebagai kawan sekaligus teman berdiskusi. Bahkan soal urusan makan-minum, ia amat santai. “Belilah apa yang bisa dinikmati hari ini, kita santai saja, asal jangan menu ‘sembarang’, sebab tak ada merek makanan atau minuman ‘sembarang’,” tuturnya bercanda.

Dimata staf dan kawannya, Afzal itu sosok humoris dan gaul, tetapi penuh ketegasan. Ia juga pandai mengkomunikasikan dirinya kepada siapapun lawan bicaranya. Tanpa perlu melihat status dirinya dan juga orang lain.

Mungkin itu ungkapan berlebihan jika dikait-kaitkan dengan citra politik seorang Muhammad Afzal Mahfuz. Sudah habitnya. Saya hanya menceritakan apa yang saya rasakan dengan politisi muda yang selalu konsisten dengan perjuangan hidupnya baik di dunia aktivis, profesi dan politik yang telah mematangkan dirinya.

Sesaat saya bangga dengan anak muda yang menurut saya punya kharisma, visioner, tetapi lebih diam dari publikasi. Bahkan ketika mencermati lembar-lembar dokumentasi hasil kerja-kerja politik yang sudah dilakukannya sebagai wakil rakyat, hanya berujar singkat, ”Ah…biasa saja.” (Rusman Madjulekka-ex wartawan senior Bisnis Indonesia).*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *