Rumah aspirasi, agar sang wakil tak tercerabut dari rakyatnya

Mungkin belum banyak yang tahu jika di Jalan Tebet Barat VIII nomor 10 terdapat rumah aspirasi dari salah satu anggota DPR RI. Kamis (2/2) merdeka.com bertandang ke rumah aspirasi tersebut. Sore itu nampak sepi. Tidak ada penjaga di pos penjaga.

Sebelum masuk ke gerbang rumah bercat merah itu, terpampang bendera PDI Perjuangan di pinggir rumah. Warga baru akan sadar kalau itu rumah aspirasi dengan adanya spanduk besar bertuliskan ‘Rumah Aspirasi Masinton Daerah Pemilihan DKI Jakarta II’. Spanduk itu disertai dengan foto anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu.

Selain spanduk tersebut, ada beberapa spanduk lainnya di dinding luar seperti PDIP, pasangan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat dan spanduk Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) salah satu organisasi underbouw PDIP.

Ketika masuk ke ruangan hanya ada beberapa orang. Mereka terlihat tengah berbincang. Di dalam rumah itu sangat sederhana, hanya terdapat ruangan utama, ruangan Masinton, dapur, kamar mandi dan kamar di lantai dua. Tidak terlihat warga yang menyampaikan aspirasi saat itu.

Setelah menunggu beberapa jam, Masinton pun datang ke rumah aspirasi. Dengan ramah dan santai anggota Komisi III DPR RI itu menceritakan awal mula mendirikan rumah aspirasi tersebut.

Masinton mengatakan, rumah aspirasi didirikan ketika dirinya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif tahun 2014. Rumah itu sebagai pusat pemenangan dengan tim. Selain itu untuk mendata kantong-kantong suara atau potensi suara di daerah pemilihan DKI Jakarta II, yang meliputi Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Rumah aspirasi ini, kata dia, bagian komitmen yang disampaikan ke konstituen atau calon pemilih saat dia kampanye. “Rumah aspirasi bukan hanya nyaleg dan tetap saat sudah terpilih dan sampai sekarang sudah dua tahun rumah aspirasi masih ada,” kata Masinton saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (2/3).

Setelah dia terpilih menjadi anggota DPR, lanjut Masinton, rumah aspirasi itu sebagai tempat melakukan interaksi, komunikasi dan pusat koordinasi di daerah pemilihannya. Menurutnya, rumah aspirasi juga sarana untuk mendekatkan diri dengan warga. Sehingga jika masyarakat ada yang harus dilaporkan atau disampaikan bisa menyampaikan ke rumah aspirasi.

Warga yang datang pun bermacam-macam keluhan atau laporannya ke rumah aspirasi tersebut. Misalnya saja, keluhan pelayanan publik dipersulit, persoalan narkoba di lingkungan atau juga masalah pribadi seperti anak putus sekolah. Keluhan itu ditampung kemudian Masinton beserta pengurus rumah aspirasi membantu mencarikan solusinya.

Katanya, ada sekitar 10 orang yang mengurus rumah aspirasi di Tebet. Awalnya rumah aspirasi Masinton berlokasi di Cikini. Lalu pindah ke Tebet lantaran kontraknya habis. Selain itu biaya sewa rumah di Cikini cukup mahal. Sebab kata Masinton, baik rumah maupun biaya operasional serta kegiatan lain dari kantung pribadinya.

“Belum (anggaran DPR), tadinya kan mau ada dana aspirasi tapi kan itu belum disetujui jadi kita masih inisiatif membiayai sendiri kegiatan,” ungkapnya.

Harga sewa pertahun rumah aspirasi di Tebet sekitar Rp 200 juta. Menurutnya, harga itu yang paling disanggupi karena dana yang dia punya hanya mengandalkan gaji dan tunjangan sebagai anggota dewan. Beberapa pengurus rumah aspirasi merupakan staf dirinya. Mereka digaji DPR, namun selain itu pengurus lainnya hanya sukarela.

Rumah aspirasi Masinton juga sebagai kantor organisasi Repdem yang mana Masinton sebagai ketua umum. Tidak setiap hari ada warga yang datang ke rumah aspirasi untuk menyampaikan keluhan atau unek-uneknya. Kendati demikian, Masinton memastikan 24 jam rumah aspirasi terbuka buat warga.

Dia menyatakan kerap menyempatkan waktu datang ke rumah aspirasi selepas dari bertugas di gedung DPR. Sekedar berbincang santai dengan pengurus atau warga agar selalu dekat dan mengetahui masalah-masalah di dapilnya. Tak cuma ke rumah aspirasi, Masinton tak jarang juga malah langsung bertandang ke tempat warga untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.

“Satu hal, sebagai wakil rakyat kita tidak tercerabut dari warga yang kita wakili dari pemilih kita,” ucapnya.

Sumber: www.merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *