siapa yang bermain di balik krisis listrik ?

Siapa yang bermain di balik Krisis Listrik ?

Memoar Danni Irawan : Episode Nur Pamudji (1)

Jakarta-PS. Tak banyak SDM kompeten yang dimiliki PT. PLN seandal Nur Pamudji, mantan direktur utama PLN periode 2011-2014 yang menggantikan Dahlan Iskan. Saya menyaksikan betapa hebatnya Nur Pamudji dalam suatu rapat dengar pendapat dengan DPR RI sekitar tahun 2013. Nur Pamudji menjelaskan tidak hanya peta jalan (road map)  PT PLN di setiap daerah, namun juga memaparkan secara holistik pembenahan PT PLN dari sisi internal perusahaan. Sulit menemukan pribadi dengan posisi Top Perusaan yang masih mau membuka laptop dan menulis sesuatu untuk menyiapkan catatan presentasi menjelang hearing dengan anggota dewan di senayan.

Tata kelola perusahaan ia gagas. Pionir kinerja berbasis kompetensi. Nur Pamudji memperkenalkan tata kelola dan cara baru dalam mengelola perusaan agar efektif dan efsisien. Cetak biru tentang pedoman kompetensi PLN diawal tahun 2000 adalah buah tangannya. Dua sisi kompetensi Nur Pamudji miliki dan buktikan sekaligus. Kompetensi teknis kelistrikan adalah latar belakangnya, namun Ia tidak berhenti sampai disitu. Saat kembali ketanah air setelah menyelesaikan studinya tentang manajemen modern, Nur Pamuji menyusun pedoman dan tata kelola SDM berbasis kompetensi yang dipedomani PLN hingga saat ini, demikian penjelasan Danni Irawan, ex Kepala Divisi Umum era Nur Pamuji dan Sofyan Basyir.

Ketika program 35 ribu MW diluncurkan, Pamudji mengetahui persis persoalan yang dihadapi PLN dan segera menyusun berbagai strategi.  Salah satunya menggandeng konsultan global  dalam mengawal program 35 ribu MW. Jadi, ada pihak yang  menjadi parner PLN dalam mengevaluasi calon investor, terutama investor pembangunan pembangkit listrik, baik oleh PLN maupun swasta.

Evaluasi sangat penting, agar seluruh proses pengadaan pembangkit listrik benar-benar terawasi dengan baik.  Bahasa kasarnya, tidak membeli kucing dalam karung. Selain itu, untuk melindungi pegawai PLN dari persoalan hukum di kemudian hari. Nur Pamudji tahu persis, terlalu banyak tangan ikut campur di investasi pembangkit. Meskipun sistem Kelistrikan dimanapun, memiliki regulasi yang sangat ketat regulasi, pengawasan berlapis tetap diperlukan.

Kembali ke Nur Pamudji. Sosok sederhana, santun, retoris dan tak ada kesan pemburu rente didirinya. Penampilannya begitu sederhana. Namun tetap saja terjerat pidana korupsi. Uang dan harta kekayaan juga tidak berlebihan.  Lebih jauh, mantan Kadiv Umum ini bertutur,  untuk tidak mengatakan sebagai politisasi kasus yang jamak dipertontonkan pada sistem hukum di Indonesia,  banyak kasus korupsi PLN berujung delik korupsi karena kesalahan administrasi pada mulanya.  Politisasi tak mungkin bisa dibuktikan, tapi ia terasa seperti angin yang berhembus kencang.

Saya bersama Pak Nur Pamudji sekitar satu semester lamanya. Sebagai Kadiv. Umum yang tugasnya tidak terbatas pada urusan rumah tangga PLN, namun juga mengurusi properti, logistik, keselamatan dan kesehatan kerja dan juga harus ikut nimbrung pada urusan hukum masalah pembebasan lahan dan aset PLN. Sekarang ini area kebijakan Kadiv. Umum PLN telah di pecah menjadi 5 divisi yang masing-masing ada kepala divisinya. Apakah hal ini menjadi lebih produktif dan  efisien, wallahu a’lam tutur Danni Irawan penggagas dan pendiri Aqsha Discovery PLN ini.

Dari interaksi ketika menjadi Kadiv. Umum PLN, saya melihat langsung kepiawaian Nur Pamuji sebagai bos yang super energik, dan menguasai dua sisi kelistrikan secara sekaligus yaitu teknis kelistrikan dan manajemen organisasi yang baik. Itulah Nur Pamudji. Sederet prestasi dan keberhasilan mengitarinya namun dibayangi oleh pusaran kasus yang terindikasi korupsi yang menjeratnya sekarang.

Satu hal lagi. Nur Pamudji digelari ahli krisis. Di tahun tahun menjadi direktur utama, PLN diterpa banyak krisis listrik di seluruh wilayah Indonesia. Ia mampu keluar dari krisis dan mengatasinya.

Lalu, mengapa orang dengan setumpuk kompetensi dan keahlian dapat terjerat kasus korupsi? Bagaimana postur ideal untuk posisi nomor satu di PLN yang mungkin terbebas dari jeratan korupsi di masa yang akan datang? Jawabannya tidak mudah. Menggabungkan sisi Nur Pamudji, Dahlan Iskan dan Sofyan Basyir mungkin adalah solusinya. Tapi juga tidak sesederhana itu. Dikesempatan lain akan kita bahas dengan memoar tersendiri. Pertanyaan kritis ini menjadi epilog wawancara khusus parlemen senayan di episode : siapa yang bermain di balik krisis? ams***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *