Harbi Syam: “Sejatinya Luwu Penyangga Pangan Nasional”

PS-Jakarta. “Pada 2020, setiap ketemu wija to Luwu, khususnya dari Kabupaten Luwu, hal yang dtanyakan atau dibicarakan pasti soal Bupati. Apa tidak ada hal menarik lainnya untuk dibicarakan ya, tanyaku dalam hati,” ujar H.Harbi Syam SH, Wija to Luwu kelahiran Bajo, 23 September 1962 ini, saat secara kebetulan ketemu di salah satu cafe, rabu (23/6) di kawasan Toddopoli Makassar.

Jebolan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin – Unhas 1988 ini, mengurai sepenggal kisah hidupnya di rantau “Bumi Cenderawasih”, tepatnya Sorong, provinsi Papua Barat.

Merantau ke belahan timur Indonesia, bagi Harbi-begitu ia akrab disapa- adalah pilihan.  Etos kerja sebagai sarjana hukum ingin mengaplikasikan ilmu yang telah ditoreh. “Selain untuk bersama masyarakat tentu juga mau mengubah nasib menjadi lebih baik dan bisa bermamfaat untuk keluarga, kerabat dan masyarakat,” lanjut anggota Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Papua Barat dua periode 2014 – 2019 dan 2019 – 2024 ini.

Beberapa tahun malang melintang di perut bumi Papua dengan berbagai pekerjaan, Harbi akhirnya setapak demi setapak  bisa mewujudkan impiannya punya usaha sendiri dan mempekerjakan banyak orang dan kini sudah punya beberapa perusahaan yang pengelolaanya ditangani keluarga dan kerabatnya. Alasanya karena  Harbi lebih konsentrasi memperjuangkan aspirasi rakyat dan mengawal demokrasi lewat parlemen.

Karena tugas sebagai wakil rakyat membuatnya bolak balik dari Papua ke Jakarta dan kerap transit di Makassar, dan menyempatkan diri pulang kampung di Luwu, untuk lepas kangen dan silaturrahmi dengan keluarga.  Dari situlah bermula informasi bahwa Harbi mau jadi Bupati.Bahkan, tanpa sepengetahuannya ada keluarga, teman sekolah yang membentuk tim sosialisasi.

Bagi mantan aktivis mahasiswa IPMI Luwu ini hal tersebut dapat dimakluminya. Karena mereka punya niat baik dan tentu mereka punya alasan sendiri.

“Awalnya jujur, saya kurang respon.  Buat apa berambisi jadi Bupati, nanti dikira ambisi kekuasaan atau mau mendulang rupiah dikampung karena di rantau tak lagi bisa mengepulkan asap dapur,” ujarnya tersenyum.  Padahal, meski belum termasuk pengusaha sukses, setidaknya tak kurang dari tiga perusahaan miliknya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memberi mamfaat buat keluarga dan masyarakat termasuk setiap pulang kampung tak luput berbagi rejeki.

“Hanya memang saya tentu sebagai putra Luwu, berkewajiban untuk turut serta berpartisipasi dalam proses akselerasi kemajuan kampung kelahiran.  Bentuk partisipasi pembangunan itu bentuknya tentu sesuai kapasitas, kompentensi  yang kita .miliki masing-masing yang bertujuan sama yakni kemajuan daerah Luwu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Menurut Harbi, harus disadari bahwa Luwu sesungguhnya adalah miniatur Indonesia.  Potensi Sumber Daya Alam (SDA)  laut, darat dan gunung perut bumi Luwu sungguh luar biasa, hampir semuanya ada.  Demikian halnya sumber daya manusia (SDM)-nya, hampir semua suku besar Indonesia ada di Luwu.

“Potensi tersebut sejatinya terkelola dengan baik, wija to Luwu baik yang bermukim di 22 Kecamatan di Luwu dan yang berada di daerah rantau mestinya bersatu untuk tujuan yang sama membangun Luwu sebagai penyangga utama pangan nasional. Tapi sayang, mereka tidak bicara untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dan itu yang harus dilakukan kedepan.” ** (Aris Asnawi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *