Sepenggal Siang di Singaraja

“Aduh…maaf yah menunggu sebentar,saya menerima tamu dulu tadi,” tutur Luh Hesti Ranitasari menyambut di kantornya seraya meminta stafnya membuatkan kopi buat kami. Kalimat yang menurut saya begitu ikhlas ia ucapkan, bahkan dengan ramah ia menjemput kami untuk beranjak ke ruangan kerjanya yang sederhana.

Pagi menjelang siang, 14 Oktober 2019, Rani – begitu ia akrab disapa – mengenakan baju dinas warna coklat dan menerima kami di ruang kerjanya yang baru beberapa hari ditempatinya di Lt.1 gedung DPRD kabupaten Bulelang, provinsi Bali. Di periode 2019-2024, anggota dewan muda ini ditetapkan mengisi jabatan Ketua Komisi 4 yang membidangi Kesra. Sebelumnya di periode lalu (2014-2019), Rani dipercaya sebagai Wakil Ketua DPRD Buleleng.

Politisi dari Demokrat itu, mengajak ngobrol ringan sembari memeriksa dan meneken beberapa surat yang ada di atas mejanya. “Yah..beginilah aktivitas saya kalau di kantor. Selalu ada warga atau mitra kerja yang pengen bertemu. Macam-macam yang disampaikan,ada yang anaknya sakit,mau nikah, mau dibantu sekolah dan ada juga yang curhat soal pribadi…hehe,” kata Rani tersenyum.

Selama perbincangan kami, beberapa kali “terpotong” dan ia minta maaf karena harus menjawab panggilan masuk ke handphonenya. Maklum saat itu di rumah orangtuanya lagi ada hajatan persiapan nikahan adiknya. Rani rela menunda urusan keluarganya itu karena ia merasa telah mengucapkan sumpah untuk mendahulukan tugasnya sebagai wakil rakyat dengan melayani para warga dan tamunya di gedung dewan. “Keluarga udah maklum kok dengan tugas saya sebagai anggota dewan,” kata Rani melanjutkan obrolannya.

Tak lama ia memulai kembali penjelasannya, tiba-tiba ia menerima lagi panggilan dari balik smartphonenya. “Maaf…saya tinggal sepuluh menit dulu,mau ketemu Pak Bupati. Dekat kok di sebelah, cukup jalan kaki,” ujarnya meminta kami tetap di ruangannya. Ia bergegas,cekatan menghandle beberapa urusan dan kelihatan energik. Sikap Rani selayaknya kawan akrab, meski kami baru bertemu. Selama ini saya hanya dengar namanya dan aktivitasnya dari orang lain.

Bahkan beberapa staf di kantor DPRD Bulelang mengaku tak pernah merasa canggung ketika kedatangan “Bu Rani” (begitu biasa mereka menyapa). Sebab Rani seperti memperlakukan staf itu sebagai kawan sekaligus teman ngobrol. Bahkan soal urusan makan-minum, Rani amat santai. “Belilah apa yang bisa dinikmati hari ini, kita santai saja, asal jangan menu ‘sembarang’, sebab tak ada merek makanan atau minuman ‘sembarang’ disini,” tuturnya bercanda, seperti ditirukan salahseorang staf DPRD Buleleng. “Ibu (Rani,red) orangnya energik,jadi saya juga harus bisa menyesuaikan dengan beliau,” tutur Asti, staf pribadinya.

Dimata staf dan kawannya, Rani itu sosok humoris tetapi penuh ketegasan. Ia juga pandai mengkomunikasikan dirinya kepada siapapun lawan bicaranya. Tanpa perlu melihat status dirinya dan juga orang lain.
Mungkin itu ungkapan berlebihan jika dikait-kaitkan dengan citra politik seorang Luh Hesti Ranitasari, tetapi publik menganggapnya biasa saja karena sudah habitnya begitu. Saya hanya menceritakan apa yang saya rasakan dengan sosok politisi perempuan Buleleng yang selalu konsisten dengan perjuangan hidupnya baik di dunia sosial kemasyarakatan yang telah mematangkan dirinya, di dunia bisnis yang telah membesarkannya maupun di dunia politik yang telah melambungkan reputasinya.

“Yuk kita keluar makan ya, santai saja, di sini rumah Anda juga, tak perlu sungkan. Anda tamu saya,” ajak Rani seraya mengarahkan kami ke warung makan sederhana yang menunya menjadi favoritnya sekaligus akhir perjumpaan kami siang itu. Yang pasti bukan pertemuan terakhir kan Bu? (RM) ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *