Sepotong Memori Anak Parangtambung

PS-Makassar. Masa kecil terlalu indah untuk dilupakan. Selasa (13/8/2019) pagi kami mencoba menelusuri jejak masa kecil Muhammad Ismak di sudut selatan kota Makassar. Namanya kampung Parangtambung. Sepanjang poros daeng tata, jalan utama di Parangtambung, sedikitnya ada beberapa baliho besar terpampang ditepi jalan tersebut. Salahsatunya ada yang persis di tepi pertigaan jalan masuk ke kompleks perumahan Hartaco (dekat masjid). “Oh…dia itu (Ismak,red) kabarnya dulu anak Parangtambung,” ujar seorang warga, saat kami menanyakan profil pria di baliho tersebut.

Kami pun melanjutkan penelusuran itu. Kabarnya, d era tahun 1970-an, saat Ismak masih kecil, kampung itu masih asri dengan aneka pepohonan besar peninggalan Belanda. Rumah penduduk pun masih dihitung jari. Yang ada saat itu hanya bangunan pabrik katun “Makassar Tekstile” (Makateks) dan Gelanggang arena pacuan kuda eks Pekan Olahraga Nasional (PON) IV.

Di sebelah timur kampung Parangtambung berdiri satu-satunya sekolah dasar (SD) yang ada di wilayah yang masuk dalam kecamatan Tamalate, kota Makassar. Namanya SD Negeri Parangtambung I (sekarang persis didepan kampus IKIP/UNM Makassar). Di sekolah itulah Ismak kecil menimba ilmu hingga tamat pendidikan dasar.

Selepas sekolah Ismak dan teman-temannya sering bermain di dalam kompleks lapangan atau arena pacuan kuda, yang jaraknya tak jauh dari rumahnya.  Kadang main bola, main layangan, main petak umpet dan lainnya sebagaimana layaknya anak kecil masa itu. Memang, boleh dibilang masa kecil Ismak dilewatkan di Parangtambung. “Ketika masih kecil dulu, saya membayangkan Parangtambung itu sangat jauh. Sehingga area bermain kami paling ke sekitar pacuan kuda,” kenang Ismak.

Tapi masa kecil saya, lanjut Ismak, seperti teman-teman yang lain. Sangat menyenangkan, apalagi seperti anak-anak Makassar kala itu, kita banyak bermain di luar ruang, di lapangan terbuka.

Mengenang masa kecilnya, Ismak menyebutkan, didikan pertama dia peroleh lewat kakeknya, seorang pendidik, Kepala Sekolah. Dari Parangtambung hingga Jongaya, sang kakek cukup tersohor. Sapaannya, Tuan Guru Cancing.

“Waktu kecil, saya punya kewajiban menginap di rumah kakek di Jalan Matahari pada tiap Sabtu dan Minggu. Di situlah saya dapat gemblengan,” ungkap Ketua Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) ini.

Selain itu, figur lain yang sangat mempengaruhi karakter Ismak hingga kini adalah ayahnya. Seorang pekerja keras yang pernah menjadi ketua serikat buruh di pabrik tekstil di sekitar Parangtambung.

“Ayah saya cukup keras dan tegas. Saya bila ketahuan ikut kerja bantu kuli panggul di dekat rumah atau pulang Magrib dari sungai, bisa habis punggung saya dihajar,” ujar ayah tiga anak dari wanita Pandeglang yang menjadi pendampingnya.

Jejak fisik masa kecil Ismak itu masih berdiri kokoh dan menjadi “saksi bisu” episode perjalanan anak manusia yang pada 25 Januari 2019 lalu genap berusia setengah abad. Meski beberapa bagian bangunannya sudah tidak seperti dulu lagi termakan waktu dan juga ada yang sudah berubah total akibat renovasi. Meski hanya melalui foto, rona muka Ismak tak bisa menyembunyikan perasaan sumringah tatkala kami mengirimkan beberapa foto bangunaan yang menjadi sepenggal kisah masa masa kecilnya tersebut. “Terima kasih kiriman fotonya,” jawab Ismak. (Rusman Madjulekka)***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *